Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul, sebagai hidayah dan rahmat Allah bagi ummat manusia sepanjang masa, yang menjamin kesejahteraan hidup material dan spiritual, duniawi dan ukrawi. Agama islam, yakni agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai Nabi akhir zaman, ialah ajaran yang diturunkan Allah yang tercantum dalam Al-Qur’an dan sunnah Nabi yang Shahih (maqbul) berupa perintah-perintah, larangan-larangan dan petunjuj-petunjuk untuk kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Ajaran islam bersifat menyeluruh yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisah-pisahkan meliputi bidang-bidang aqidah, akhlak, ibadah, dan muamalah duniawiyah.
B. KEPENTINGAN
Warga Muhammadiyah dewasa ini memerlukan pedoman kehidupan yang bersifat panduan dan pengkayaan dalam menjalani berbagai kegiatan sehari-hari, Tuntutan ini didasarkan atas perkembangan situasi dan kondisi antara lain :
Kepentingan akan adanya Pedoman yang dijadikan acuan bagi segenap anggota Muhammadiyah sebagai penjabaran dan bagian dari Keyakinan Hidup Islami Dalam Muhammadiyah yang menjadi amanat Tanwir Jakarta 1992 yang lebih merupakan konsep filosofis.
Perubahan-perubahan sosial-politik dalam kehidupan nasional di era reformasi yang menumbuhkan dinamika tinggi dalam kehidupan ummat dan bangsa serta mempengaruhi kehidupan Muhammadiyah, yang memerlukan pedoman bagi warga dan Pimpinan Persyarikatan bagaimana menjalani kehidupan di tengah gelombang perubahan itu.
Perubahan-perubahan alam pikiran yang cenderung pragmatis (berorientasi pada nilai guna semata), materialistis (berorientasi pada kepentingan materi semata), dan hedonistis (berorientasi pada pemenuhan kesenangan duniawi) yang menumbuhkan budaya inderawi (kebudayaan duniawi yang sekular) dalam kehidupan modern abad ke-20 yang disertai dengan gaya hidup modern memasuki era baru abad ke-21.
Penetrasi budaya (masuknya budaya asing secara meluas) dan multikulturalisme (kebudayaan masyarakat dunia yang majemuk dan serba milintasi) yang dibawa oleh globalisasi (proses-proses hubungan-hubungan sosial-ekonomi-politik-budaya yang membentuk tatanan sosial yang mendunia) yang akan makin nyata dalam kehidupan bangsa.
Perubahan orientasi nilai dan sikap dalam bermuhammadiyah karena berbagai faktor (internal dan eksternal) yang memerlukan standar nilai dan norma yang jelas dari Muhammadiyah sendiri.
C. PEMAHAMAN
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah adalah seperangkat nilai dan norma Islami yang bersumber Al-Quran dan Sunnah menjadi pola bagi tingkah laku warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan sehari-hari sehingga tercermin kepribadian Islami menuju terwujudnya masyarakat utama yang diridloi Allah SWT.
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah merupakan pedoman untuk menjalani kehidupan dalam lingkup pribadi, keluarga, bermasyarakat, berorganisasi, mengelola amal usaha, berbisnis, mengembangkan profesi, berbangsa dan bernegara, melestarikan lingkungan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan mengembangkan seni dan budaya yang menunjukkan perilaku uswah hasanah (teladan yang baik).
D. SIFAT
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah Memiliki beberapa sifat/kriteria sebagai berikut :
Mengandung hal-hal pokok/prinsip dan penting dalam bentuk acuan nilai dan norma.
Bersifat pengkayaan dalam arti memberi banyak khazanah untuk membentuk keluhuran dan kemuliaan ruhani dan tindakan.
Aktual, yakni memiliki keterkaitan dengan runrutan dan kepentingan kehidupan sehari-hari.
Memberikan arah bagi tindakan individu maupun kolektif yang bersifat keteladanan.
Ideal, yakni dapat menjadi panduan untuk kehidupan sehari-hari yang bersifat pokok dan utama.
Rabbani, artinya mengandung ajaran-ajaran dan pesan-pesan yang bersifat akhlaqi yang membuahkan kesalihan.
Taisir, yakni panduan yang mudah dipahami dan diamalkan oleh setiap muslim khususnya warga Muhammadiyah.
E. TUJUAN
Terbentuknya perilaku individu dan kolektif seluruh anggota Muhammadiyah yang menunjukkan keteladanan yang baik (uswah hasanah) menuju terbentuknya masyarakat utama yang diridlai Allah SWT.
F. ISLAM SEBAGAI HIDAYAH DAN RAHMAT ALLAH
Hidayah iman dan islam merupakan hidayah dan kenikmatan tertinggi yang patut disyukuri. Tanpa hidayah iman dan islam, manusia laksana jasad tanpa ruh...berjalan kesana kemari tanpa mempunyai tujuan hidup yang jelas, terombang-ambing dalam kegelapan.
Orang yang mendapat hidayah mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1. Selalu mencari ridlo Allah
2. Segala sesuatu/perkara dikembalikan pada aturan Allah
3. Selalu mengikuti aturan Allah
4. Bathinnya selalu tenang
5. Arah hidupnya jelas
6. Mampu memecahkan masalah hidup
7. Pikirannya tajam, akhlaq dan lisannya bagus
8. Selalu positif thinking
G. ISLAM AGAMA YANG SEMPURNA DAN LANDASAN HIDUP UNTUK MEMBENTUKPRIBADI MUSLIM, MUKMIN, DAN MUTTA’QIN
Kepribadian Muhsin, Muslim, Mukmin dan Muttaqin Memiliki beberapa sifat-sifat atau kriteria-kriteria, yang mengandung hal-hal pokok dan prinsip dan pentingnya dalam bentuk acuan nilai dan norma hal ini Bersifat pengkayaan dalam arti memberi banyak khazanah untuk membentuk keluhuran dan kemuliaan rohani dan tindakan baik dengan ucapan dan perbuatan Aktual, yakni memiliki keterkaitan dengan runrutan dan kepentingan kehidupan sehari-hari.
Memberikan arah bagi tindakan individu maupun kolektif yang bersifat keteladanan.Ideal, yakni dapat menjadi panduan untuk kehidupan sehari-hari yang bersifat pokok dan utama. Rabbani, artinya mengandung ajaran-ajaran dan pesan-pesan yang bersifat baik yang membuahkan kesalihan. Akhlaq, yakni panduan yang mudah dipahami dan diamalkan oleh setiap muhsin, muslim, mukmin dan muttaqin.
Setiap umat yang berjiwa muslim, mukmin, dan muttaqin yang paripurna itu dituntut untuk memiliki keyakinan (aqidah) berdasarkan tauhid yang istiqamah dan bersih dari syirik, bid'ah, dan khurafat; memiliki cara berfikir sesuai dengan keperibadian tersebut; dan perilaku serta tindakan yang senantiasa dilandasi oleh tingkah laku dan untuk mencerminkan akhlaq al-karimah.
Dalam kehidupan di dunia ini menuju kehidupan di akhirat nanti pada hakekatnya Islam yang serba utama itu benar-benar dapat dirasakan, diamati, ditunjukkan, dibuktikan dan membuahkan rahmat bagi semesta alam sebagai sebuah manhaj kehidupan (sistem kehidupan) apabila sungguh-sungguh secara nyata diamalkan oleh para pemeluknya. Dengan demikian Islam menjadi sistem keyakinan, sistem pemikiran, dan sistem tindakan yang menyatu dalam diri setiap muhsin, muslim, mukmin dan muttaqin sebagaimana menjadi pesan utama risalah dakwah Islam.
a. Kepribadian Muslim
Sering orang menyebut Kepribadian muslim itu ialah cerminan pada orang yang rajin menjalankan ajaran agama Islam dari aspek ritual seperti shalat. Dan juga ada yang mengatakan kepribadian muslim itu terlihat dari sikap dermawan dan suka menolong orang lain atau aspek sosial. Mungkin ada yang berpendapat kepribadian muslim itu terlihat dari penampilan seseorang yang kalem dan baik hati.
Jawaban di atas hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
Dan didalam Alqur’an surat Ali- Imran ayat 52 dijelaskan, Allah SWT berfirman:
“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?" para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa Sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim yang berserah diri.” (Ali-Imran: 52)
Dalam tafsir al-Misbah ditafsirkan bahwasanya: Sebagian bani Israil tidak menyambut ajakan-ajakan itu. Maka tat kala isa merasakan, yakni mengetahui dengan pengetahuan yang demikian jelas, seperti jelasnya pengetahuan yang berdasar indera, adanya keingkaran terhadap dirinya sebagai rasul dari sebagian mereka, dan bahwa mereka akan menghalanginya menyebarkan dakwah, berkatalah dia, “siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk bersama-sama berjalan menuju jalan yang mengantar kepada Allah? “ Para hawariyyin, yakni sahabat-sahabat beliau yang setia, menjawab, “ Kamilah penolong-penolong (Agama) Allah yang engkau cari itu.
Kami akan berjuang bersama engkau karena kami beriman kepada Allah: Tuhan Yang Maha Esa, Yang tidak Beranak dan diperanakkan. Konsekuensi kepercayaan ini mengharuskan kami membela agama-Nya, maka karena itu kami siap berjuang, dan saksikanlah kelak di hadapn Allah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim yang berserah diri, patuh mengikuti perintah Allah dan perintah Rasul-Nya”, dan para pegikut Isa as. Pun mengaku bahwa mereka adalah orang-orang muslim.
Dan disebutkan dalam Ayat lain: dalam al-Qur’an Surat Al-mu’minun : 57-61
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati Karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Qs.Al-Mu’minun: 57-61)
Ada beberapa poin yang dapat disimpulkan dari ayat diatas: yang pertama: mereka orang-orang muslim takut akan azab Allah SWT jadi berhati-hati. Kedua: dan orang-orang muslim beriman kepada ayat-ayat Allah SWT. Ketiga: orang-orang muslim tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun. Keempat: orang-orang muslim menyakini akan adanya hari akhir atau hari kemudian. Dan yang Kelima: orang-orang mukmin bersegera untuk mendapat kebaikan
b. Kepribadian Mukmin
Adanya kualitas manusia dalam suatu kelompok tertentu didasari oleh kualitas kepribadian yang dimilikinya. Ketika kita berfikir tentang kepribadian seseorang, mungkin yang terbesit dalam pikiran kita adalah kepribadian yang merupakan kesan yang timbul dari masing-masing individu terhadap orang lain atau kesan paling penting yang ditinggalkan individu lain. Misalnya memandang manusia sebagai seorang yang agresif, sensitif, ramah, santun dan sebagainya, disnilah peran kepribadian seorang mukmin, bagaimanakah mereka harus menempatkan kepribadiannya.
Sesuai yang terkandung dalam al-Qur’an Surat Ali-Imran ayat 122: Allah berfirman.
“Ketika dua golongan dari padamu ingin (mundur) Karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (Qs. Ali-Imran: 122)
Dalam tafsir Al-Mishbah dijelaskan bahwasanya: Allah akan menolong siapa saja orang-orang yang beriman kepadanya. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal, tidak kepada selain-Nya, tidaka juga kepada perlengkapan dan personil, apalagi kalau personil itu terdiri dari orang-orang munafik.
Dan juga penggalan terakhir ayat ini, menurut al-Biqa’i, lebih baik dipahami mengandung pesan sebagai berikut: “Allah adalah penolong kedua golongan itu, karena mereka beriman dan berserah diri kepada-Nya, dan bukannya kehendak mundur itu bersumber dari tekad mereka. Mereka bahkan menjadikan Allah sebagai penolong dan berserah diri kepada-Nya, guna mengukuhkan kamu dan menghindarkan kelemahan atasmu, karena itu hendaklah semua kaum mukminin percaya dan berserah diri kepada-Nya agar mereka semua pun memperoleh pertolongan-Nya”.
Agaknya makna inilah yang merupakan pujian buat mereka yang menjadikan kedua golongan itu merasa berbahagia dengan turunnya ayat ini, karena dengan tegas ayat ini menyatakan bahwa Allah swt. Adalah penolong mereka. Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari
Ada juga Ulama yang memahami firman-Nya: padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu, merupakan kecaman kepada golongan itu. Mereka dikecam karena bermaksud meninggalkan medan perang, padahal seharusnya mereka tau persis bahwa Allah akan membantu orang-orang mukmin dan tentu saja membantu mereka juga kalau mereka benar-benar mukmin.
Rasulullah Saw menyebutkan ciri-ciri mukmin yang mengagumkan sehingga hal ini harus kita miliki, beliau bersabda:
“Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mukmin. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia tertimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya”, (HR. Ahmad dan Muslim).
Dari hadits di atas, ada tiga sifat yang harus kita miliki agar pribadi kita sebagai mukmin bisa menjadi pribadi yang mengagumkan, dan situasi serta kondisi sekarang amat menuntut lahirnya pribadi-pribadi seperti ini.
Pertama, Berorientasi Pada Kebaikan. Pada dasarnya, setiap manusia senang pada kebaikan dan mereka pun telah mengenalnya, karenanya Al-Qur’an menyebutkan satu istilah untuk kebaikan yang disebut dengan ma’ruf. Namun meskipun manusia sudah mengetahui tentang kebaikan, ternyata mereka masih belum mau juga berbuat baik, karenanya harus ada upaya memerintah manusia untuk melakukan kebaikan, inilah yang disebut dengan amar ma’ruf.
Manakala manusia telah menjadi mukmin yang sejati, maka manusia akan sangat senang melakukan kebaikan, dia akan memberi kontribusi dalam kebaikan bahkan berlomba-lomba dalam kebaikan dan selalu ingin menjadi yang terbaik, ini semua disadari karena hidup di dunia hanyalah salah satu fase kehidupan, sedangkan fase akhirnya adalah kehidupan akhirat, Allah SWT berfirman:
“Beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,” (Qs. Al-Mu’minun:1-3)
Ciri kedua dari mukmin yang mengagumkan adalah selalu Bersyukur Atas Kesenangan yang diperolehnya. Bersyukur kepada Allah SWT atas kesenangan, kebahagiaan dan kenikmatan yang diperoleh merupakan sikap yang sangat mulia.
Hal ini karena dengan begitu, seorang mukmin menyadari bahwa segala kenikmatan merupakan anugerah atau pemberian dari Allah Swt. Manusia memang seharusnya menyadari bahwa usaha yang dilakukannya sebenarnya tidak seberapa besar, tapi Allah Swt memberikan balasan dengan balasan yang besar.
Ketiga yang merupakan ciri mukmin yang mengagumkan adalah Bersabar Atas Kesusahan. Sabar atas segala musibah atau kesusahan yang menimpa merupakan ciri yang melekat pada pribadi orang yang beriman, karenanya seorang mukmin itu menjadi manusia yang mengagumkan.
Kesabaran seorang mukmin dalam menghadapi kesusahan membuatnya menjadi tidak mudah berputus asa, sesulit apapun keadaan yang menimpa dirinya, dia tetap optimis akan ada hari esok yang lebih baik, baginya yang penting adalah berusaha dan bertawakal kepada Allah Swt.
c. Kepribadian Muttaqin
Manusia adalah ciptaan Allah SWT yang sangat istimewa dimuka bumi. Kejadiannya diumumkan secara khusus dimuka para malaikat dan dia diberi Jabatan sebagai khalifah dimuka bumi.
Keistimewaan manusia menurut firman Allah SWT antara lain: Struktur tubuh yang kokoh dan seimbang, lincah dan kuat. Disamping itu yang khas adalah Ruh insaniah danm jasmaniah. Perpaduan ruh insaniah dan jasmani ini akan membentuk jasad yang serasi dan harmonis diberi tanggung jawab amanat agar mengamalkan agama Islam dengan sungguh-sungguh dan Ikhlas.
Manusia lahir dalam keadaan suci dan serba kekurangan tidak membawa harta benda, serta tidak mengetahui suatu apapun karena belum bisa mendengar, melihat dan membaca, awal dari perkembangan kehidupan manusia berada pada potensi rochani.
Dalam Al-Qur’an Surat Luqman ayat: 22, dijelaskan tentang kepribadian orang Islam yaitu Muttaqin.
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan (Muttaqin), Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan Hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (QS. Luqman: 22).
Setelah menampakan keheranan dan keanehan menyangkut sikap para pendurhaka itu, ayat diatas bagaikan menyatakan: demikianlah, siapa yang membantah keesaan Allah atau menolak agama-Nya, maka dialah yang tidak memiliki sedikit pegangan pun, dan siapa pada masa kini dan datang yang menyerahkan secara ikhlas wajahnya yakni seluruh hidup dan totalitasnya kepada Allah, dan mengakui keesaan-Nya sedang dia muttaqin yakni selalu berbuat baik, maka sesungguhnya ia htelah berpegang teguh pada buhul tali yang kukuh. Orang itu akan kembali kepada Allah dalam keadaan selamat dan Allah akan menganugerahkan untuknya kesudahan yang baik. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.
Ayat ini merupakan perumpamaan keadaan seseorang yang beriman. Betapapun sulitnya keadaan, walau ibarat menghadap kesuatu jurang yang amat curam, dia tidak akan jatuh binasa karena dia berpegang dengan kukuh pada seutas tali yang amat kukuh. Bahkan seandainya ia terjerumus masuk ke dalam jurang itu, ia masih dapat naik dan ditolong, karena ia tetap berpegang pada tali yang menghubungkannya dengan sesuatu yang diatas, bagaikan timba yang dipegang ujungnya, yaitu timba yang diturunkan guna mengambil air lalu ditarik keatas.
Ciri-ciri orang yang muttaqin itu ada 3 (tiga) :
1. “Yunfiquuna fissarrai wa dharraa “ yaitu orang yang menafkahkan hartanya diwaktu lapang dan sempit. Jika diwaktu lapang mungkin akan lebih mudah untuk menafkahkan harta, gaji besar dan ketika mendapatkan keuntungan dalam berniaga serta kesenangan lainnya. Tetapi Allah SWT juga memerintahkan agar kita menafkahkan harta diwaktu sempit dimana terkadang orang miskin ini hanya bisa meminta-minta tetapi tidak mau memberi, padahal ciri manusia muttaqin adalah meskipun miskin, kita tetap menafkahkan harta, mungkin kadarnya saja yang berbeda antara ketika lapang dan sempit. Allah SWT berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”. (Q.S. Ali-Imran:134)
2. “Wal khadziminal ghaidza “ yaitu orang yang bisa menahan amarahnya. Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (Tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-A’raf: 56)
3. “Wal a’fiina ‘aninnass” yaitu orang-orang yang bisa memaafkan kepada manusia, memaafkan manusia itu sangat sulit. Ketika seseorang berbuat salah kepada kita kadang-kadang menjadikan hati kita dongkol dan susah untuk memaafkan. Allah SWT berfirman:
“(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang Telah kami rezkikan kepada mereka.” (Q.S. Al-Hajj: 35)
Seseorang disebut memiliki kepribadian Muslim, Mukmin dan Muttaqin apabila sikap, prilaku, penampilan dan tindakannya dalam bimbingan terhadap Tuhannya. Agar terwujud kepribadian Muslim, Mukmin dan Muttaqin, hendaknya seorang yang memilki kepribadian tersebut harus bersungguh-sungguh mempercayai-Nya dengan segala kesempurnaan keagungan, keperkasaan dan keindahan perbuatan dan kebijaksanaan-Nya, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya serta dzat_Nya.
H. ISLAM BERSIH DARI SYIRIK, TAHAYUL, WIDIYAH, DAN KHURAFAT.
Bersih" adalah sifat yang sangat disukai oleh Allah SWT. ".... Dan Allah menyukai orang-orang yang "bersih". (Al-Qur'an Surat At Taubah Ayat 108).
Surga disediakan untuk orang-orang yang "bersih" dari kekafiran dan kemaksiatan, seperti Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat Thaahaa Ayat 76: "(yaitu) surga Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Dan itu adalah balasan bagi orang yang "bersih" (dari kekafiran dan kemaksiatan)".
Air surgapun berwarna putih "bersih", sedap rasanya bagi orang-orang yang minum. (Al-Qur'an Surat Ash-Shaaffaat Ayat 46).
Agama Islam adalah agama yang "bersih". "Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang "bersih" (dari syirik). ....." (Al-Qur'an Surat Az-Zumar 3).
Allah amat menyukai orang yang berpakaian "bersih", seperti perintah-Nya "dan pakaianmu "bersih"kanlah" (Al-Qur'an Surat Al-Muddatsir Ayat 4).
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mem"bersih"kan diri (denganberiman)". (Al-Qur'an Surat Al-A'laa Ayat 14).
"Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk mem"bersih"kannya." (Al-Qur'an Surat Al-Lail Ayat 18).
Di dunia ini, Allah juga memberikan rahmat-Nya kepada alam semesta berupa air yang amat "bersih" , seperti Firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Furqaan Ayat 48: "Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan), dan kami turunkan dari langit air yang amat "bersih."
Selain bersih, adalah hijau, yang menjadi icon lingkungan yaitu "hijau" dan "bersih" atau green and clean.
Tidak ada warna yang lebih banyak disebutkan dalam Al-Qur'an melebihi warna "hijau". Allah SWT menggambarkan keadaan penghuni surga dan segala kenikmatan yang melingkupinya dalam suasana yang penuh keceriaan, kebahagiaan, kenikmatan, dan ketenangan jiwa.
Allah SWT berfirman di dalam Surah Ar-Rahman: "Mereka bersandar pada bantal-bantal yang "hijau" dan permadani-permadani yang indah."
"Hijau" dan "bersih", kedua-duanya merupakan warna dan sifat yang ada dalam surga seperti ang digambarkan dalam Al-Qur'an Surat Al-Insaan Ayat 21 : "Mereka memakai pakaian sutera halus yang "hijau" dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang "bersih". Archam (seorang psikiater) berpendapat bahwa pengaruh warna dalam diri manusia sangat mendasar. Hasil dari beberapa percobaan menunjukkan bahwa warna mempengaruhi keberanian dan pertahanan diri seseorang. Warna juga membuat seseorang mampu merasakan panas atau dingin, senang atau susah, bahkan warna dapat mempengaruhi kepribadian seseorang dan pandangannya mengenai kehidupan.
Besarnya pengaruh warna dalam diri manusia membuat beberapa rumah sakit menganjurkan para dokter spesialis untuk mengenakan pakaian dengan warna tertentu yang dapat mempengaruhi kesembuhan. Begitu pula dengan dinding kamar rumah sakit, dicat dengan warna tertentu yang berdampak baik bagi kesembuhan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa warna kuning dapat mengaktifkan kembali urat-urat saraf dan meningkatkan semangat. Warna ungu cenderung pada suasana kemapanan. Sementara itu, warna biru memberikan rasa dingin pada seseorang. Hal ini berkebalikan dengan warna merah yang memberikan nuansa hangat atau panas. Para ilmuwan sendiri sepakat menyimpulkan bahwa warna "hijau" memberikan nuansa keceriaan, kebahagiaan, dan cinta kehidupan. Karena itu "hijau" menjadi warna dominan di ruang-ruang operasi serta pakaian para dokter dan perawat.
Warna "hijau" memberikan kesegaran bagi penglihatan karena luas pandang warna "hijau" lebih kecil dibandingkan luas pandang pada warna-warna lain. Selain itu, panjang gelombang warna "hijau" ukurannya sedang, tidak sepanjang warna merah atau sependek warna biru.
I. ISLAM MEMILIKI CARA BERFIKIR BAYANI, BURHANI, DAN IRFANI.
Fasilitas pengetahuan manusia meliputi panca indera yang dapat mengamati objek-objek fisik, akal/rasionalitas yang mampu mengenal objek fisik dan nonfisik dengan menyimpulkan dari yang telah diketahui menuju yang tidak diketahui dan hati (qalb) yang menangkap nonfisik atau metafisika melalui kontak langsung dengan objek yang hadir dalam jiwa. Fasilitas-fasilitas tersebut yang yang memungkinkan manusia mengetahui realitas alam semesta yang bertingkat-tingkat wujudnya dalam suatu hirarkis. Oleh karena itu, dalam epistemologi Islam, dikenal realitas fisik dan non-fisik, baik berupa realitas imajinal (mental) maupun realitas metafisika
Hal tersebut ditegaskan dalam al-Qur’an QS. Al-Sajdah: 7-9:
Artinya: “Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Nya ke dalam (tubuh manusia) dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati tetapi kamu sedikit sekali bersyukur”.
a. Pengertian Bayani, Burhani, Irfani
1. Bayani
Kata bayani berasal dari bahasa Arab yaitu al-baya>ni> yang secara harfiyah bermakna sesuatu yang jauh atau sesuatu yang terbuka. Namun secara termenologi, ulama berbeda pendapat dalam mendefinisikan al-baya>ni>, ulama ilmu al-bala>gah misalnya, mendefinisikan al-baya>n sebagai sebuah ilmu yang dapat mengetahui satu arti dengan melalui beberapa cara atau metode seperti tasybi>h (penyerupaan), maja>z dan kina>yah.[1][16] Ulama kalam (theology) mengatakan bahwa al-baya>n adalah dalil yang dapat menjelaskan hukum. Sebagian yang lain mengatakan bahwa al-baya>n adalah ilmu baru yang dapat menjelaskan sesuatu atau ilmu yang dapat mengeluarkan sesuatu dari kondisi samar kepada kondisi jelas.
Namun dalam epistemologi Islam, bayani adalah metode pemikiran khas Arab yang menekankan pada otoritas teks (nas}), secara langsung atau tidak langsung, dan dijustifikasi oleh akal kebahasaan yang digali lewat inferensi (istidla>l).
Oleh karena itu, secara langsung bayani adalah memahami teks sebagai pengetahuan jadi dan langsung mengaplikasikan tanpa perlu pemikiran. Namun secara tidak langsung bayani berarti memahami teks sebagai pengetahuan mentah sehingga perlu tafsir dan penalaran. Meski demikian, hal ini tidak berarti akal atau rasio bisa bebas menentukan makna dan maksudnya, tetapi tetap harus bersandar pada teks. Sehingga dalam bayani, rasio dianggap tidak mampu memberikan pengetahuan kecuali disandarkan pada teks. Dalam perspektif keagamaan, sasaran bidik metode bayani adalah aspek eksoterik (syariat).
Dengan demikian, epistemologi bayani pada dasarnya telah digunakan oleh para fuqaha (pakar fiqhi), mutakallimun (Theolog) dan us}ulliyun (Pakar us{ul al-fiqhi). Di mana mereka menggunkan bayani untuk:
Ø Memahami atau menganalisis teks guna menemukan atau mendapatkan makna yang dikandung atau dikehendaki dalam lafaz, dengan kata lain pendekatan ini dipergunakan untuk mengeluarkan makna zahir dari lafaz yang zahir pula.
Ø Istinba>t} (Pengkajian) hukum-hukum dari al-nus}u>s} al-di>niyah (al-Qur'an dan Hadis).
Dalam bahasa filsafat yang disederhanakan, pendekatan bayani dapat diartikan sebagai model metodologi berpikir yang didasarkan atas teks. Dalam hal ini teks sucilah yang memilki otoritas penuh menentukan arah kebenaran. Fungsi akal hanya sebagai pengawal makna yang terkandung di dalamnya yang dapat diketehui melalui pencermatan hubungan antara makna dan lafaz.
2. Burhani
Burhani merupakan bahasa Arab yang secara harfiyah berarti mensucikan atau menjernihkan. Ulama ushul, al-burhan adalah sesuatu yang memisahkan kebenaran dari kebatilan dan membedakan yang benar dari yang salah melalui penjelasan.
Al-Jabiri mendekatinya melalui sistem epistemologi yang ia bangun dengan metodologi berpikir yang khas, bukan menurut terminologi mantiqi dan juga tidak dalam pengertian umum, dan berbeda dari yang lain. Epistemologi tersebut pada abad-abad pertengahan menempati wilayah pergumulan kebudayaan Arab Islam yang mendampingi epistemologi bayani dan `irfani.
Epistemologi burhani menekankan visinya pada potensi bawaan manusia secara naluriyah, inderawi, eksperimentasi, dan konseptualisasi (al-h}iss, al tajribah wa muh}akamah 'aqliyah).
Jadi epistemologi burhani adalah epistemologi yang berpandangan bahwa sumber ilmu pengetahuan adalah akal. Akal menurut epistemologi ini mempunyai kemampuan untuk menemukan berbagai pengetahuan, bahkan dalam bidang agama sekalipun akal mampu untuk mengetahuinya, seperti masalah baik dan buruk (tansi>n dan tawbi>h). Epistemologi burhani ini dalam bidang keagamaan banyak dipakai oleh aliran berpaham rasionalis seperti Mu’tazilah dan ulama-ulama moderat.
3. Irfani
Irfani merupakan bahasa Arab yang terdiri dari huruf ع- ر-ف memiliki dua makna asli, yaitu sesuatu yang berurutan yang sambung satu sama lain dan bermakna diam dan tenang.[2][29] Namun secara harfiyah al-‘irfa>n adalah mengetahui sesuatu dengan berfikir dan mengkaji secara dalam. Dengan demikian al-‘irfa>n lebih khusus dari pada al-‘ilm.
Secara termenologi, irfani adalah pengungkapan atas pengetahuan yang diperoleh lewat penyinaran hakikat oleh Tuhan kepada hambanya (al-kasyf) setelah melalui riyadah.
Contoh konkrit dari pendekatan 'irfani lainnya adalah falsafah isyraqi yang memandang pengetahuan diskursif (al-hikmah al-batiniyyah) harus dipadu secara kreatif harmonis dengan pengetahuan intuitif (al-hikmah al-zawqiyah). Dengan pemaduan tersebut pengetahuan yang diperoleh menjadi pengetahuan yang mencerahkan, bahkan akan mencapai al-hikmah al-haqiqiyyah. Pengalaman batin Rasulullah saw. dalam menerima wahyu al-Qur'an merupakan contoh konkrit dari pengetahuan irfani.
Dapat dikatakan, meski pengetahuan irfani bersifat subyekyif, namun semua orang dapat merasakan kebenarannya.
Artinya, setiap orang dapat melakukan dengan tingkatan dan kadarnya sendiri-sendiri, maka validitas kebenarannya bersifat intersubyektif dan peran akal bersifat partisipatif.
Implikasi dari pengetahuan 'irfani dalam konteks pemikiran keislaman, adalah menghampiri agama-agama pada tataran substantif dan esensi spiritualitasnya, dan mengembangkannya dengan penuh kesadaran akan adanya pengalaman keagamaan orang lain (the otherness) yang berbeda aksidensi dan ekspresinya, namun memiliki substansi dan esensi yang kurang lebih sama.
Dalam filsafat, irfani lebih dikenal dengan istilah intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui proses penalaran tertentu. Ciri khas intuisi antara lain; z|auqi> (rasa) yaitu melalui pengalaman langsung, ilmu hud}u>ri> yaitu kehadiran objek dalam diri subjek, dan eksistensial yaitu tanpa melalui kategorisasi akan tetapi mengenalnya secara intim. Henry Bergson menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi pemikiran yang tertinggi, tetapi bersifat personal.
Dalam surah pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw., dijelaskan bahwa ada dua cara mendapatkan pengetahuan. pertama melalui "pena" (tulisan) yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah 'llm Ladunny seperti ilmu yang diperoleh oleh Nabi Haidir:
فوجدا عبدا من عبادنا آتيناه رحمة من عندنا وعلمناه من لدنا علما
Artinya: “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba kami, yang Telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami, dan yang Telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”.
Pengetahuan intuisi ada yang berdasar pengalaman indrawi seperti aroma atau warna sesuatu, ada yang langsung diraih melalui nalar dan bersifat aksioma seperti A adalah A, ada juga ide cemerlang secara tiba-tiba seperti halnya Newton ( 1642-1727 M) menemukan gaya gravitasi setelah melihat sebuah apel yang terjatuh tidak jauh dari tempat ia duduk dan ada juga berupa mimpi seperti mimpi Nabi Yusuf as. dan Nabi Ibrahim as.
Mengenai taksonomi epistemologi pengetahuan irfani adalah dari segi sumber pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman wujud sang ‘a>rif itu sendiri; dari segi media/alat pengetahuan, ia bersumber dari kedalaman-kesejatian wujud sang ‘a>rif; dari segi objek pengetahuan, ia menjadikan wujud sebagai objek kajiannya; dari segi cara memperoleh pengetahuan, ia diperoleh dengan cara menyelami wujud kedirian melalui metode riya>d}ah.
b. Asal Usul Epistemologi Bayani, Burhani dan Irafani
Di penghujung abad pertama Hijriyah, telah terjadi pemindahan ilmu-ilmu kuno dari Iskandaria, pusat perkembangan filsafat Hermes ke dalam kebudayaan Islam Arab. Kehadiran ilmu-ilmu nonArab Islam ini mengundang sikap anti pati ulama ahl al-sunnah awal karena dianggap bertentangan dengan aqidah Islam. Ilmu-ilmu tersebut memasuki wilayah kebudayaan Islam melalui penerjemahan.
Kemapanan Pemerintahan Islam, terutama pada masa pemerintahan Abbasiyah, memberi peluang yang luas bagi komunitas Muslim untuk berkenalan dengan kebudayaan luar. Hal ini atas dukungan Khalifah al-Mansur yang sangat respek terhadap ilmu pengetahuan. Sejak itu, Baghdad telah banyak bersinggungan dengan filsafat Yunani. Ibnu Nadim dalam al-Fihrisat (pada masa kekuasaan al-Makmun; 811-833.M) banyak sekali mengalihbahasakan tulisan Aristoteles. Ini merupakan awal gerakan keilmuan yang menduduki posisi puncak dalam pengalihbahasaan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab (al-ta'rib), bahkan di dalam kebudayaan Arab Islam tulisan Aristoteles dianggap sebagai kitab induk sehingga dalam Da>r al-H{ikmah banyak sekali terkumpul manuskrip (makht}u>t}a>t) di dalamnya.
Kronologi Bayani paling tidak telah dimulai dari masa Rasulullah saw, dimana beliau menjelaskan ayat-ayat yang sulit dipahami oleh sahabat. Kemudian para sahabat menafsirkan al-Qur’an dari ketetapan yang telah diberikan Rasulullah saw melalui teks. Selanjutnya tabi’in mengumpulkan teks-teks dari Rasulullah dan sahabat, kemudian mereka menambahkan penafsirannya dengan kemampuan nalar dan ijtihadnya dengan teks sebagai pedoman utama. Akhirnya datang kemudian generasi setelah tabi’in yang melakukan penafsiran sebagaimana pendahulunya sampai berkelanjutan kepada generasi yang lain.
Sedangkan Aristoteles merupakan orang yang pertama membangun epistemologi burhani yang populer dengan logika mantiq yang meliputi persoalan alam, manusia dan Tuhan. Aristoteles sendiri menyebut logika itu dengan metode analitik. Analisis ilmu atas prinsip dasarnya baik proporsi h}amli>yah (Categorical Proposition) maupun shartiyah (Hypothetical Proposition) pada hakikatnya adalah alat untuk mencapai tujuan berupa aturan-aturan untuk menjaga kesalahan berpikir.
Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa logika Aristoteles lebih memperlihatkan nilai epistemologi dari pada logika formal. Demikian pula halnya dengan diskursus filsafat kita dewasa ini yang melihat persoalan alam (alam, Tuhan dan manusia) bukan lagi persoalan proposisi metafisika karena epistemologi burhani dikedepankan untuk menghasilkan pengetahuan yang valid dan bangunan pengetahuan yang meyakinkan tentang persoalan duniawi dan alam.
Dinamika kehidupan kontemporer dewasa ini bisa memilah-milah masing-masing pendekatan epistemologik: bayani dan irfani karena masing-masing memiliki tipikal satu sama lain, dan epistemologi burhani bisa menjadi pemoles keserasian hubungan antara kedua epistemologi di atas.
Para pakar berbeda pendapat tentang asal mula sumber irfani. Pendapat tersebut dapat diklasifikasi dalam beberapa poin sebagai berikut:
1. Sebagian golongan menganggap bahwa irfani berasal dari Persia dan Majusi seperti yang disampaikan oleh Dozy dan Thoulk. Alasannya bahwa sejumlah orang-orang besar sufi berasal dari Khurasan dan kelompok Majusi.
2. Sebagian yang lain mengatakan bahwa irfani bersumber dari Kristen sebagaimana yang diungkapkan oleh Von Kramer, Ignaz Goldziher, Nicholson dan yang lain. Alasan mereka paling tidak dapat dikelompokkan dalam dua poin, yaitu:
a. Interaksi yang terjadi antara orang Arab dan kaum Nasrani pada masa jahiliyah dan Islam.
b. Kesamaan kehidupan antara sufi dan Yesus dan Rahib dalam masalah ajaran, tata cara riya>d{ah, ibadah dan tata cara berpakaian.
3. Sebagian yang lain berpendapat bahwa irfani bersumber dari India seperti pendapat Horten dan Hartman. Alasan yang diajukan adalah:
a. Kemunculan dan penyebaran irfani pertama dari Khurasan.
b. Kebanyakan para sufi angkatan pertama bukan dari kalangan Arab.
c. Turkistan adalah pusat agama dan kebudayaan timur dan barat sebelum Islam yang sedikit banyak memberi pengaruh mistisisme.
d. Konsep dan metode irfani seperti keluasan hati dan pemakaian tasbih merupakan praktik-praktik dari India.
4. Sebagian yang lain berpendapat bahwa irfan berasal dari Yunani, khususnya neo-platonisme dan Hermes. Alasannya sederhana bahwa theologi Aristoteles merupakan paduan antara sistem porphiry dan proclus yang sudah dikenal dalam Islam.
Salah satu bukti bahwa Rasulullah saw. membenarkan bahkan mengakui akan keberadaan makna irfani adalah hadisnya yang berbunyi:
إن الله قال من عادى لي وليا فقد آذنته بالحرب وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به وبصره الذي يبصر به ويده التي يبطش بها ورجله التي يمشي بها وإن سألني لأعطينه ولئن استعاذني لأعيذنه.
Artinya: Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang menyakiti seorang wali maka aku mengumandangkan perang dengannya, hambaku tidaklah mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang paling aku cintai melainkan apa yang aku wajibkan padanya dan hambaku senantiasa mendekatkan diri kepadaku dengan hal-hal yang sunnah hingga aku mencintainya. Jika aku sudah mencintainya maka akulah pendengaran yang digunakan mendengar, penglihatan yang digunakan melihat, tangan yang digunakan memukul dan kaki yang digunakan berjalan, Jika dia meminta padaku aku akan memberikannya dan jika dia berlindung kepadaku maka aku akan melindunginya”.
Sedangkan riya>d{ah dalam irfani sering kali dilakukan oleh Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya seperti khulwah (penyepian), tinggal di mesjid Nabawi dan prilaku individu sahabat. Pada perkembangan berikutnya istilah yang dapat mewakili makna irfani mulai beragam. Dalam filsafat misalnya dikenal istilah intuisi sedangkan dalam tafsir dikenal istilah isya>ri>.
c. Keunggulan dan Keterbatasan Bayani, Burhani dan Irafani
Pada prinsipnya, Islam telah memiliki epistemologi yang komprehensif sebagai kunci untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Hanya saja dari tiga kecenderungan epistemologis yang ada (bayani, burhani dan irfani), dalam perkembangannya lebih didominasi oleh corak berpikir bayani yang sangat tekstual dan corak berpikir irfani (kasyf) yang sangat sufistik. Kedua kecenderungan ini kurang begitu memperhatikan pada penggunaan rasio secara optimal.
Keunggulan bayani terletak pada kepada kebenaran teks (al-Qur’an dan Hadis) sebagai sumber utama hukum Islam yang bersifat universal sehingga menjadi pedoman dan patokan.
Dalam epistemologi bayani sebenarnya ada penggunaan rasio, akan tetapi relatif sedikit dan sangat tergantung pada teks yang ada. Penggunaan yang terlalu dominan atas epistemologi ini telah menimbulkan stagnasi dalam kehidupan beragama, karena ketidakmampuannya merespon perkembangan zaman. Hal ini dikarenakan epistemologi bayani selalu menempatkan akal menjadi sumber sekunder, sehingga peran akal menjadi terpasung di bawah bayang-bayang teks, dan tidak menempatkannya secara sejajar, saling mengisi dan melengkapi dengan teks.
Sistem berpikir yang konstruksi epistemologinya dibangun di atas semangat akal dan logika dengan beberapa premis merupakan keunggulan epistemologi burhani.
Namun Kendala yang sering dihadapi dalam penerapan pendekatan ini adalah sering tidak sinkronnya teks dan realitas. Produk ijtihadnya akan berbeda jika dalam pengarusutamaan teks atau konteks. Masyarakat lebih banyak memenangkan teks daripada konteks, meskipun yang lebih cenderung kepada kontekspun juga tidak sedikit.
Di antara keunggulan irfani adalah bahwa segala pengetahuan yang bersumber dari intuisi-intuisi, musya>hadah, dan muka>syafah lebih dekat dengan kebenaran dari pada ilmu-ilmu yang digali dari argumentasi-argumentasi rasional dan akal. Bahkan kalangan sufi menyatakan bahwa indra-indra manusia dan fakultas akalnya hanya menyentuh wilayah lahiriah alam dan manifestasi-manifestasinya, namun manusia dapat berhubungan secara langsung (immediate) yang bersifat intuitif dengan hakikat tunggal alam (Allah) melalui dimensi-dimensi batiniahnya sendiri dan hal ini akan sangat berpengaruh ketika manusia telah suci, lepas, dan jauh dari segala bentuk ikatan-ikatan dan ketergantungan-ketergantungan lahiriah.
Namun kendala atau keterbatasan irfani antara lain adalah bahwa ia hanya dapat dinikmati oleh segelintir manusia yang mampu sampai pada taraf pensucian diri yang tinggi. Di samping itu, irfani sangat subjektif menilai sesuatu karena ia berdasar pada pengalaman individu manusia.
J. ISLAM AGAMA DAKWAH
Islam adalah agama dakwah. Kalimah la ilaha illallah merupakan inti ajaran Islam, sekaligus pendorong utama kegiatan dakwah. Berkat dakwah, Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia. Dakwah adalah misi utama kenabian Muhammad saw dan wujud kepedulian, bahkan kasih sayang kita kepada sesama manusia
Salah satu ciri seorang muslim adalah kepeduliannya terhadap aktivitas dakwah Melalui dakwah kita dihindarkan dari sikap individualis.
Ada perumpamaan dalam masyarakat “Bagaikan suatu rombongan yang naik kapal. Ada yang duduk di bagian atas, ada lagi yang duduk di bagian bawah. Dan bila ada orang di bagian bawah akan mengambil air, ia harus melewati orang di atasnya. Sehingga orang yang di bagian bawah tadi berpikiran, ”Seandainya aku melubangi tempat duduk milikku sendiri untuk mendapatkan air, tentu aku tidak akan mengganggu orang yang di atas”. Bila mereka mencegahnya, ia akan selamat dan semua isi kapal akan selamat, sementara bila mereka membiarkan, maka orang itu akan celaka begitupun semua isi kapal.
1. DAKWAH SANGAT PENTING
1. Menentukan muslim tidaknya manusia, dan kualitas kepribadiannya
2. Menentukan tegak tidaknya hukum Islam
3. Menentukan corak kehidupan manusia, kehidupan keluarga, lingkungan dan kehidupan masyarakat
4. Bahkan menentukan corak kehidupan dunia
2. TUJUAN DAKWAH
1. Mentauhidkan Allah
2. Menjadikan Islam sebagai rahmat bagi sekalian alam
3. Menjadikan Islam sebagai pedoman hidup manusia sedunia
4. Menggapai Ridha Allah
3. TUJUAN DAKWAH (KHUSUS)
1. Didapatnya kader pengemban dakwah
2. Terbentuknya jamaah
3. Tegaknya daulah
4. ANCAMAN BILA DAKWAH DITINGGALKAN
1. Ditengah manusia berkembang kemusyrikan, kekafiran dan kemaksiyatan
2. Manusia akan hidup dengan hukum jahiliah, sehingga tidak ada rahmat. Yang ada adalah laknat
3. Dunia akan dikendalikan oleh adikuasa jahiliah
4. Bila dakwah ditinggalkan, bagaimana ridha Allah bisa didapat?
5. Tidak akan didapat kader
6. Tidak ada jamaah
7. Tidak akan ada daulah Islam
5. ARAH DAKWAH
1. Dakwah kepada orang kafir bertujuan untuk merubahnya menjadi muslim. Ini bisa dilaksanakan secara individual, tapi lebih efektif bila dilakukan secara berjamaah, dan paling efektif bila dilaksanakan oleh daulah Islam dengan cara menerapkan hukum Islam secara murni dan konsekuen
2. Dakwah kepada negara kafir bertujuan untuk merubahnya menjadi negeri Islam, atau diminta tunduk sebagai ahl-dzimmah dengan membayar jizyah. Dakwah ini hanya bisa dilaksanakan oleh daulah Islam
3. Dakwah kepada orang Islam bertujuan untuk meningkatkan iman dan ketaatannya pada aturan Islam. Bisa dilaksanakan secara individual, tapi akan lebih efektif bila dilakukan oleh jamaah, dan paling efektif dilaksanakan oleh daulah Islam dengan cara menerapkan hukum Islam.
6. JANJI ALLAH BAGI PENGEMBAN DAKWAH
1. Predikat sebaik-baik ummat
2. Menjadi kelompok yang beruntung
3. Pahala yang terus mengalir
4. Mendapat pahala dari orang yang mengikuti
5. Bila dakwah dilancarkan melalui jihad, Allah berjanji akan mengampuni semua dosa, memberikan surga, pertolongan dan kemenangan yang dekat.
Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kelompok ini perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu
BalasHapusbenar sekali itu saudara ku...
BalasHapussaat ini kita dan saudara2 kita yg lain, benar-benar dalam kondisi yang mengkhawatirkan. dimana konspirasi besar2an sedang dilakukan oleh para kafir (kaum satanisme/para pemuja setan "dajjal") dalam memporak-porandakan keimanan kita dan saudara2 kita melalui Ghozwul Fikri (Perang Pemikiran)..
smoga kita sama2 dilindungi-Nya dari si penipu ulung itu "Dajjal"
amin.......
o ya, makasih sudah sudi berkunjung sobat...
insyaallah saya nanti bekunjung balik...:)