Sabtu, Juli 21, 2012

Keterampilan Dasar Mengajar

I. Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran
Keterampilan membuka pelajaran adalah usaha guru untuk mengkondisikan mental peserta didik agar siap dalam menerima pelajaran. Dalam membuka pelajaran peserta didik harus mengetahui tujuan yang akan dicapai dan langkah-langkah yang akan ditempuh. Tujuan membuka pelajaran adalah :
  1. Menyiapkan mental siswa agar siap memasuki persoalan yang akan dipelajari atau dibicarakan.
  2. Menimbulkan minat serta pemusatan perhatian siswa terhadap apa yang akan dibicarakan dalam kegiatan pembelajaran.
Awal kegiatan pelajaran seorang guru harus melakukan kegiatan membuka pelajaran. Komnponen ketrampilan membuka pelajaran yaitu :
  1. Menarik Perhatian Siswa Cara yang dapat dipergunakan :
    a. Gaya Mengajar Guru
    Perhatian dapat timbul dari apresiasi gaya mengajar guru seperti posisi, atau kegiatan yang berbeda dari biasanya.

    b. Penggunaan Alat Bantu Mengajar
    Seperti gambar : model, skema, disamping menarik perhatian memungkinkan terjadinya kaiatan antara hal yang telah diketahui dengan hal yang dipelajari.

    c. Pola Interaksi Yang Bervariasi
    Seperti guru-siswa, siswa-siswa, siswa-guru.
  2. Menimbulkan Motivasi
    Cara untuk menimbulkan motivasi:
    a. Dengan Hangat dan Antusias
    Hendaknya ramah, antusias, bersahabat dan sebagainya. Sebab dapat mendorong tingkah dan kesenangan dalam mengerjakan tugas sehingga motivasi Siswa akan timbul.

    b. Menimbulkan Rasa Ingin Tahu
    Melontarkan ide yang bertentangan dengan mengerjakan masalah atau kondisi diri kenyataan sehari-hari Contoh : Kalau menghitung luas tanah yang tidak bentuknya tidak beraturan dapat menggunakan konsep integral mengapa banyak orang yang tidak ingin menggunakannya.

    c. Dengan Memperhatikan Minat Siswa Menyesuaikan topik pelajaran dengan minat siswa karena motivasi dan minat berpengaruh pada jenis kelamin, umur, sosial ekonomi dan sebagainya.
  3. Memberi Acuan (Structuring)
    Yaitu usaha untuk mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkai alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas hal-hal yang harus dipelajari. Untuk itu cara yang dilakukan adalah :

    a. Mengemukakan tujuan dan batas tugas.
    Hendaknya guru mengemukakan tujuan pelajaran terlebih dahulu dan batas tugas yang dikerjakan siswa. Contoh : Guru : hari ini kita belajar mengarang cerita perhatikan tiga buah gambar berikut lalu berdasarkan gambar itu tulis suatu cerita yang panjangnya lebih kurang 100 kata

    b. Menyarankan Langkah-Langkah Yang Dilakukan
    Tujuannya adalah agar dalam pelajaran siswa akan terarah usahanya dalam mempelajari materi dan tugas jika guru memberi saran dan langkah-langkah kegiatan yang dilakukan misalnya :
    Guru : tugas kalian adalah membuktikan pada temperature berapa derajat celcius air mendidih, langkah yang harus kalian kerjakan adalah :
    - Mengukur temperature yang belum dipanasi
    - Lalu nyalakan lampu spirtus ini dan panaskan air dalam gelas ini
    - Jika air sudah mendidih catatlah berapa suhunya sesuai dengan yang kelihatan pada temperatur.

    c. Mengingatkan Masalah Pokok Yang Dibahas
    Misalnya : Dengan mengingatkan siswa untuk menemukan hal-hal yang positif dari sifat suatu konsep, tanda/simbol, media, hewan dan lain-lain. Selain itu tunjukan juga hal negatif yang hilang atau kurang lengkap. Contoh : Periksalah bahan-bahan ini dan tentukan mengapa beberapa batu dapat digolongkan dalam jenis batu yang mengandung biji besi dan yang lain tidak.

    d. Mengajukan pertanyaan
    Pertanyaan diajukan sebelum memulai penjelasan akan mengarahkan siswa dalam mengantisipasi isi pelajaran yang akan dipelajari. Contoh : Sebelum memutar film tentang siklus kehidupan nyamuk guru mengajukan pertanyaan untuk membantu siswa memahami siklus nyamuk yang digambarkan oleh film tersebut.
  4. Membuat Kaitan
    Jika guru mengerjakan materi baru perlu menghubungkan dengan hal yang telah dibuat siswa atau pengalaman atau minat dan kebutuhanya untuk mempermudah pemahaman hal-hal yang telah dikenal, pengalaman, minat dan kebutuhan inilah yang disebut dengan pengait. Contoh : Usaha guru untuk membuat kaitan.

    a. Permulaan pelajaran guru meninjau kembali sejauh mana materi sebelumnya telah dipahami dengan mengajukan pertanyaan atau merupakan inti materi pelajaran terdahulu secara singkat.

    b. Cara membandingkan atau mempertentangkan dengan pengetahuan baru, hal ini dilakukan jika pengetahuan baru erat kaitanya dengan pengetahuan lama. Contoh: Guru bertanya untuk mengetahui pemahaman siswa tentang pengurangan sebelum mengerjakan pembagian.

    c. Cara menjelaskan konsepnya atau pengertian lebih dahulu sebelum mengerjakan bahan secara terperinci.
Keterampilan Menutup Pelajaran adalah memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang dipelajari siswa , mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar. Dalam menutup pelajaran, guru dapat menyimpulkan materi pelajaran, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guna dalam proses belajar mengajar.
Cara yang dapat dilakukan adalah :
  1. Meninjau Kembali
    Akhir kegiatan guru harus meninjau kembali apakah inti pelajaran yang diajarkan sudah dipahami oleh siswa , kegiatan ini meliputi;
    -  Merangkum inti pelajaran (berlangsung selama proses PBM).
    - Membuat ringkasan (dimaksudkan dengan adanya ringkasan siswa yang tidak memiliki buku atau yang terlambat bisa mempelajarinya kembali).
  2. Mengevaluasi
    Salah satu upaya untuk mengetahui apakah siswa sudah mendapatkan pemahaman yang utuh terhadap konsep yang dijelaskan adalah dengan evaluasi. Bentuk-Bentuk Evaluasi Itu Meliputi :

    a. Mendemonstrasikan ketrampilan
    Contoh : Setelah selesai mengarang puisi guru dapat meminta siswa untuk membacakan di depan kelas.

    b. Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain
    Contoh: Guru merupakan persamaan kuadrat siswa disuruh menyelesaikan soal persamaan
    c. Mengekpresikan pendapat siswa sendiri
    Guru dapat meminta komentar tentang keefektifan suatu demontrasi yang dilakukan guru atau siswa lain.

    d. Soal-soal tertulis
    - Uraian
    - Tes objektif
    - Melengkapi lembar kerja
Prinsip-prinsip membuka dan menutup pelajaran :
  • Dalam membuka pelajaran harus member! makna kepada peserta didik, yaitu dengan menggunakan cararcara yang relevan dengan tujuan dan bahanyang akan disampaika
  • Hubungan antara pendahuluan dengan inti pengajaran serta dengan tugas-tugas yang dikerjakan sebagai tindak lanjut nampak jelas dan logis
  • Menggunakan apersepsi yaitu mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkannya terhadap pengetahuan yang sudah diketahui oleh peserta didik.
II. Keterampilan Bertanya
Dalam proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh seorang guru tidaklah lepas dari guru memberikan pertanyaan dan murid memberikan jawaban yang diajukan.
Pada kenyataannya di lapangan banyak para guru yang tidak menguasai teknik-teknik dalam memberikan pertanyaan kepada siswa sehingga banyak pertanyaan tersebut hanya bersifat knowledge saja artinya kebanyakan hanya mengandalkan ingatan.
Bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat pula akan memberikan dampak positif terhadap siswa, yaitu:
a. meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan belajar-mengajar,
b. membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan,
c. mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari siswa sebab berpikir itu sendiri sesungguhnya adalah bertanya,
d. menuntut proses berpikir siswa sebab pertanyaan yang baik akan membantu siswa agar dapat menentukan jawaban yang baik,
e. memustakan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas.

  • Dasar-dasar Pertanyaan yang Baik 1. Jelas dan mudah dimengerti oleh siswa.
    2. Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan.
    3. Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu.
    4. Berikan waktu yang cukup kepada anak untuk berpikir sebelum menjawab pertanyaan.
    5. Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata.
    6. Berikan respons yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian siswa untuk menjawab atau bertanya.
    7. Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.
  • Jenis-jenis Pertanyaan yang Baik Jenis pertanyaan menurut maksudnya a. Pertanyaan permintaan (compliance question) (menghendaki siswa agar mematuhi perintah yg diucap dlm bentuk pertanyaan. Contoh: dapatkah kamu tenang agar suara bapak dapat kalian dengar)
    b. Pertanyaan retoris (rhetorical question) (pertanyaan yg tdk menghendaki jawaban, tetapi dijawab sendiri oleh guru. Contoh: mengapa observasi diperlukan sebelum PPL. Guru menjawab......) c. Pertanyaan mengarahkan untuk menuntun (prompting question) (memberi arah dalam proses berpikir murid dg maksud agar siswa memperhatikan dg seksama bagian ttt yg dianggap penting. Di sisi lain bila murid salah menjawab atau tdk bisa menjawab guru dapat mengajukan pertanyaan yg menuntun proses berpikir siswa shg siswa menemukan jawaban) d. Pertanyaan menggali (probing question)(pertanyaan lanjutan yg akan mendorong murid utk lebih mendalami jawaban atas pertanyaan pertama, dg maksud meningkatkan kualitas dan kuantitas jawaban yg diberikan)
    2. Pertanyaan Menurut Taksonomi Bloom a. Pertanyaan pengetahuan (recall question atau knowledge question) (pertanyaan yg mengarah kpd ingatan dg menggunakan kata-kata : apa, di mana, kapan, siapa, dan sebutkan)
    b. Pertanyaan pemahaman (comprehension question) (menghendaki pemahaman dg kata-kata sendiri. Spt : jelaskan, uraikan, dan bandingkan)
    c. Pertanyaan penerapan (aplication question) (menghendaki jawaban jawaban utk menerapkan pengetahuan atau informasi yg diterima. Contoh : berdasarkan proses tersebut, kesimpulan apa yg dapat anda berikan) d. Pertanyaan sintesis (synthesis question)(menghendaki jawab benar dan tdk tunggal, tetapi lebih dari satu dan menuntut murid membuat ramalan (prediksi), pemecahan masalah, mencari komunikasi. Contoh : apa yang terjadi jika musim kemarau tiba) e. Pertanyaan evaluasi (evaluation question) (menghendaki jawaban yang memberikan penilaian atau pendapat thd suatu isu yang ditampilkan. Bagaimana pendapat anda terhadap perkembangan teknologi informasi)
  • Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
    1. Kehangatan dan Keantusiasan Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar-mengajar, guru perlu menunjukkan sikap baik pada waktu mengajukan pertanyaan maupun ketika menerima jawaban siswa. Sikap dan car guru termasuk suara, ekspresi wajah, dan posisi badan menampakkan ada-tidaknya kehangatan dan keantusiasannya.

    2. Kebiasaan yang Perlu Dihindari a. Jangan mengulang-ulang pertanyaan bila siswa tidak mampu menjawabnya.
    b. Jangan mengulang-ulang jawaban siswa.
    c. Jangan menjawab sendiri pertanyaan yang diajukan sebelum siswa memperoleh kesempatan untuk menjawabnya.
    d. Usahakan agar siswa tidak menjawab pertanyaan secara serempak karena guru tidak dapat mengetahui dengan pasti siapa yang menjawab benar dan siapa yang salah serta menutup kemungkinan berinteraksi selanjutnya.
    e. Menentukan siapa siswa yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan akan menyebabkan siswa yang tidak ditunjuk untuk menjawab tidakn memikirkan jawaban pertanyaan.
    f. Pertanyaan ganda.
  • Komponen-komponen Keterampilan Bertanya Dasar 1. Penggunaan pertanyaan secara jelas dan singkat Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang dapat dipahami oleh siswa sesuai dengan taraf perkembangannya.

    2. Pemberian acuan Sebelum memberikan pertanyaan, kadang-kadang guru perlu memberikan acuan yang berupa pertanyaan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa.

    3. Pemindahan giliran Adakalanya satu pertanyaan perlu dijawab oleh lebih dari seorang siswa karena jawaban siswa benar atau belum memadai.

    4. Penyebaran Untuk melibatkan siswa sebanyak-banyaknya di dalam pelajaran, guru perlu menyebarkan giliran jawaban pertanyaan secara acak. Ia hendaknya berusaha agar semua siswa mendapat giliran secara merata.

    5. Pemberian waktu berpikir Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh siswa, guru perlu memberi waktu beberapa detik untuk berpikir sebelum menunjukkan salah seorang siswa untuk menjawabnya.

    6. Pemberian tuntunan Bila siswa tidak menjawab salah atau tidak dapat menjawab, guru hendaknya memberikan tuntunan kepada siswa itu agar ia dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.
  • Komponen-komponen Keterampilan Bertanya Lanjutan Keterampilan bertanya lanjut dibentuk atas dasar penguasaan komponen-komponen bertanya dasar. Oleh sebab itu, komponen bertanya dasar masih dipakai dalam penerapan keterampilan bertanya lanjut.

    Adapun komponen-komponennya adalah sebagai berikut:
    1. Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan 2. Pengaturan urutan pertanyaan 3. Penggunaan pertanyaan pelacak
    4.
    Peningkatan terjadinya interaksi
III. KETERAMPILAN MEMBERI PENGUATAN
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, apakah bersifat verbal ataupun nonverbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, yang bertujuan untuk memberikan informasi atau umpan balik (feedback) bagi si penerima (siswa) atas perbuatannya sebagai suatu tindak dorongan ataupun koreksi. Atau, penguatan adalah respons terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Tindakan tersebut dimaksudkan untuk mengganjar atau membesarkan hati siswa agar mereka lebih giat berpartisipasi dalam interaksi belajar-mengajar.
a. Tujuan Pemberian Penguatan
Penguatan mempunyai pengaruh yang berupa sikap positif terhadap proses belajar siswa dan bertujuan sebagai berikut:
1. Meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran.
2. Merangsang dan meningkatkan motivasi belajar.
3. Meningkatkan kegiatan belajar dan membina tingkah laku siswa yang produktif.
b. Jenis-jenis Penguatan
1. Penguatan verbal Biasanya diungkapkan atau diutarakan dengan menggunakan kata-kata pujian, penghargaan, persetujuan, dan sebagainya, misalnya bagus; bagus sekali; betul; pintar; ya, seratus buat kamu!
2. Penguatan noverbal

c. Prinsip Penggunaan Penguatan 1. Kehangatan dan keantusiasan
2. Kebermaknaan 3. Menghindari penggunaan respons yang negatif
d. Cara Menggunakan Penguatan
1. Penguatan kepada pribadi tertentu Penguatan harus jelas kepada siapa ditujukan sebab bila tidak, aka kurang efektif. Oleh karena itu, sebelum memberikan penguatan, guru terlebih dahulu menyebut nama siswa yang bersangkutan sambil menatap kepadanya.
2. Penguatan kepada kelompok Penguatan dapat pula diberikan kepada sekelompok siswa, misalnya apabila satu tugas telah diselesaikan dengan baik oleh satu kelas, guru membolehkan kelas itu bermain bola voli yang menjadi kegemarannya.
3. Pemberian penguatan dengan segera Penguatan seharusnya diberikan segera setelah muncul tingkah laku atau respons siswa yang diharapkan. Penguatan yang ditunda pemberiannya, cenderung kurang efektif.
4. Variasi dalam penggunaan Jenis atau macam penguatan yang digunakan hendaknya bervariasi, tidak terbatas pada satu jenis saja karena hal ini menimbulkan kebosanan dan lama-kelamaan akan kurang efektif.

IV. KETERAMPILAN MENJELASKAN
Yang dimaksud dengan keterampilan menjelaskan dalam pengajaran ialah penyajian informasi secara lisan yang diorganisasi secara sistematik untuk menunjukkan adanya hubungan yang satu dengan yang lainnya, misalnya antara sebab dan akibat, definisi contoh atau dengan sesuatu yang belum diketahui.
a. Tujuan Memberikan Penjelasan
1. Membimbing murid untuk mendapat dan memahami hukum, dalil, fakta, definisi, dan prinsip secara objektif dan bernalar.
2. Melibatkan murid untuk berpikir dengan memecahkan masalah-masalah atau pertanyaan.
3. Untuk mendapat balikan dari murid mengenai tingkat pemahamannya dan untuk mengatasi kesalahpahaman mereka.
4. Membimbing murid untuk menghayati dan mendapat proses penalaran dan menggunakan bukti-bukti dalam pemecahan masalah.

b.
Alasan Perlunya Keterampilan Menjelaskan Dikuasai oleh Guru
1. Meningkatkan keefektifan pembicaraan agar benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi siswa karena pada umumnya pembicaraan lebih didominasi oleh guru daripada oleh siswa.
2. Penjelasan yang diberikan oleh guru kadang-kadang tidak jelas bagi muridnya, tetapi hanya jelas bagi guru sendiri. Hal ini tercermin dalam ucapan guru: “Sudah jelas, bukan?” atau “Dapat dipahami, bukan?” Oleh karena itu, kemampuan mengelola tingkat pemahaman murid sangat penting dalam memberikan penjelasan.
3. Tidak semua murid dapat menggali sendiri pengetahuan dari buku atau dari sumber lainnya. Oleh karena itu, guru perlu membantu menjelaskan hal-hal tertentu.
4. Kurangnya sumber yang tersedia yang dapat dimanfaatkan oleh murid dalam belajar. Guru perlu membantu dengan cara memberikan informasi lisan berupa penjelasan yang cocok dengan materi yang diperlukan.

c.
Komponen-komponen Keterampilan Menjelaskan
1. Merencanakan
2. Penyajian suatu penjelasan
Penyajian suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Kejelasan
b. Penggunaan contoh dan ilustrasi
c. Pemberian tekanan
d. Penggunaan balikan

V. Keterampilan Memberi Variasi
a. Pengertian
Variasi stimulus adalah suatu kegiatan guru dalam konteks proses interaksi belajar-mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid sehingga, dalam situasi belajar-mengajar, murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme, serta penuh partisipasi. Untuk itu sebagai calon guru perlu melatih diri agar menguasai keterampilan tersebut.
b. Tujuan dan Manfaat
1. Untuk menimbulkan dan meningkatkan perhatian siswa kepada aspek-aspek belajar-mengajar yang relevan.
2. Untuk memberikan kesempatan bagi berkembangnya bakat ingin mengetahui dan menyelidiki pada siswa tentang hal-hal yang baru.
3. Untuk memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
4. Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran yang disenanginya.
c. Prinsip Penggunaan
1. Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai.
2. Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak mengganggu pelajaran.
3. Direncanakan secara baik, dan secara eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran atau satuan pelajaran.
d. Komponen-komponen Keterampilan Mengadakan Variasi
1. Variasi dalam cara mengajar guru a. Penggunaan variasi suara (teacher voice).
b. Pemusatan perhatian siswa (focusing)
c. Kesenyapan atau kebisuan guru (teacher silence)
d. Mengadakan kontak pandang dan gerak (eye contact and movement).
e. Gerakan badan mimik.
f. Pergantian posisi guru di dalam kelas dan gerak guru (teachers movement).
2. Variasi dalam penggunaan media dan alat pengajaran Media dan alat pengajaran, bila ditinjau dari indera yang digunakan, dapat digolongkan ke dalam tiga bagian, yakni dapat didengar, dilihat dan diraba.
Adapun variasi penggunaan alat antara lain adalah sebagai berikut:
a. Variasi alat atau bahan yang dapat dilihat (visual aids).
b. Variasi alat atau bahan yang dapat didengar (auditif aids)
c. Variasi alat atau bahan yang dapat diraba, dimanipulasi, dan digerakkan (motorik).
d. Variasi alat atau bahan yang dapat didengar, dilihat, dan diraba (audiovisual aids).
3. Variasi pola interaksi dan kegiatan siswa a. Pola guru-murid:
Komunikasi sebagai aksi (satu arah).
b. Pola guru-murid-guru:
Ada balikan (feedback) bagi guru, tidak ada interaksi antarsiswa (komunikasi sebagai interaksi).
c. Pola guru-murid-murid:
Ada balikan bagi guru, siswa saling belajar satu sama lain.
d. Pola guru-murid, murid-guru, murid-murid:
Interaksi optimal antara guru dengan murid dan antara murid dengan murid (komunikasi sebagai transaksi, multiarah).
e. Pola melingkar:
Setiap siswa mendapat giliran untuk mengemukakan sambutan atau jawaban, tidak diperkenankan berbicara dua kali apabila setiap siswa belum mendapat giliran.

VI. Keterampilan Mengelola Kelas
Pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar. Dengan kata lain kegiatan-kegiatan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar-mengajar. Yang termasuk ke dalam hal ini misalnya penghentian tingkah laku siswa yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran bagi ketepatan waktu penyelesaian tugas oleh siswa, atau penetapan norma kelompok yang produktif.
Suatu kondisi belajar yang optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa dan siswa dengan siswa merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan prasyarat mutlak bagi terjadinya proses belajar-mengajar yang efektif.
a. Prinsip Penggunaan
1. Kehangatan dan keantusiasan 2. Tantangan 3. Bervariasi 4. Keluwesan 5. Penekanan pada hal-hal yang positif 6. Penanaman disiplin diri
b. Komponen Keterampilan
1. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif)
Keterampilan ini berkiatan dengan kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran serta kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal tersebut yang meliputi keterampilan sebagai berikut:
a. Menunjukkan sikap tanggap
b. Memberi perhatian
c. Memusatkan perhatian kelompok
d. Memberikan petunjuk-petunjuk yang jelas
e. Menegur
f. Memberi penguatan
2. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembalian kondisi belajar yang optimal

c. Hal-hal yang Harus Dihindari
Dalam usaha mengelola kelas secara efektif ada sejumlah kekeliruan yang harus dihindari oleh guru, yaitu sebagai berikut:
1. Campur tangan yang berlebihan (teachers instruction) 2. Kelenyapan (fade away) 3. Ketidaktepatan memulai dan mengakhiri kegiatan (stops and starts) 4. Penyimpangan (degression) 5. Bertele-tele (overdwelling)

VII. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil
Diskusi kelompok adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang informal dengan berbagai pengalaman atau informasi, pengambilan kesimpulan, atau pemecahan masalah.
Pengertian diskusi kelompok dalam kegiatan belajar-mengajar tidak jauh berbeda dengan pengertian di atas. Siswa berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil di bawah pimpinan guru atau temannya untuk berbagai infromasi, pemecahan masalah, atau pengambilan keputusan. Diskusi tersebut berlangsung dalam suasana terbuka. Setiap siswa bebas mengemukakan ide-idenya tanpa merasa ada tekanan dari teman atau gurunya, dan setiap siswa harus menaati peraturan yang ditetapkan sebelumnya.
Diskusi kelompok merupakan suatu kegiatan yang harus ada dalam proses belajar-mengajar. Akan tetapi, tidak setiap guru dan calon guru mampu membimbing para siswanya untuk berdiskusi tanpa mengalami latihan. Oleh karena itu, keterampilan ini perlu diperhatikan agar para guru dan clon guru mampu melaksanakan tugas ini dengan baik.
a. Komponen Keterampilan Membimbing Diskusi
1. Memusatkan perhatian siswa pada tujuan dan topik diskusi 2. Memperluas masalah atau urunan pendapat 3. Menganalisis pandangan siswa 4. Meningkatkan urunan siswa 5. Menyebarkan kesempatan berpartisipasi 6. Menutup diskusi 7. Hal-hal yang harus diperhatikan
· Mendominasi diskusi sehingga siswa tidak diberi kesempatan
· Membiarkan siswa tertentu memonopoli diskusi.
· Membiarkan terjadinya penyimpangan dari tujuan diskusi dengan pembicaraan yang tidak relevan.
· Membiarkan siswa yang enggan berpartisipasi.
· Tidak memperjelas atau mendukung urunan pikir siswa.
· Gagal mengakhiri diskusi secara efektif.

VIII. Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
Hakikat Mengajar Kelompok Kecil Dan Perorangan
Mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan bentuk mengajar klasikal biasa yang memungkinkan guru dalam waktu yang sama menghadapi beberapa kelompok kecil yang belajar secara kelompok dan beberapa orang siswa yang bekerja atau belajar secara perorangan. Format mengajar ini ditandai oleh adanya hubungan interpersonal yang lebih akrab dan sehat antara guru dengan siswa, adanya kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan kemampuan, minat, cara, dan kecepatannya, adanya bantuan dari guru, adanya keterlibatan siswa dalam merancang kegiatan belajarnya, serta adanya kesempatan bagi guru untuk memainkan berbagai peran dalam kegiatan pembelajaran.
Setiap guru dapat menciptakan format pengorganisasian siswa untuk kegiatan pembelajaran kelompok kecil dan perorangan sesuai dengan tujuan, topik (materi), kebutuhan siswa, serta waktu dan fasilitas yang tersedia. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan perlu dikuasai guru karena penerapannya dapat memenuhi kebutuhan belajar siswa yang berbeda-beda. Selain itu, pembelajaran kelompok kecil dan perorangan memberi kemungkinan terjadinya hubungan interpersonal yang sehat antara guru dengan siswa, terjadinya proses saling belajar antara siswa yang satu dengan lainnya, memudahkan guru dalam memantau pemerolehan belajar siswa, dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, dapat menumbuhkembangkan semangat saling membantu, serta memungkinkan guru dapat mencurahkan perhatiannya pada cara belajar siswa tertentu sehingga dapat menemukan cara pendekatan belajar yang sesuai bagi siswa tersebut.
Komponen Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan
1. Keterampilan mengadakan pendekatan pribadi, yang ditampilkan dengan cara:
- Menunjukkan kehangatan dan kepekaan terhadap kebutuhan dan perilaku siswa,
- Mendengarkan dengan penuh rasa simpati gagasan yang dikemukakan siswa,
- Merespon secara positif pendapat siswa,
- Membangun hubungan berdasarkan rasa saling mempercayai,
- Menunjukkan kesiapan untuk membantu,
- Menunjukkan kesediaan untuk menerima perasaan siswa dengan penuh pengertian, serta
- Berusaha mengendalikan situasi agar siswa merasa aman, terbantu, dan mampu menemukan pemecahan masalah yang dihadapinya.
2. Keterampilan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran, yang ditampilkan dengan cara:
- Memberikan orientasi umum tentang tujuan, tugas, dan cara mengerjakannya,
- Memvariasikan kegiatan untuk mencegah timbulnya kebosanan siswa dalam belajar,
- Membentuk kelompok yang tepat,
- Mengkoordinasikan kegiatan,
- Membagi perhatian pada berbagai tugas dan kebutuhan siswa, serta
- Mengakhiri kegiatan dengan kulminasi.
3. Keterampilan membimbing dan memberi kemudahan belajar, yang ditampilkan dengan cara:
- Memberi penguatan secara tepat,
- Melaksanakan supervisi proses awal,
- Melaksanakan supervisi proses lanjut, serta
- Melaksanakan supervisi pemaduan.
4. keterampilan merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran, yang ditampilkan dengan cara:
- Membantu siswa menetapkan tujuan belajar,
- Merancang kegiatan belajar,
- Bertindak sebagai penasihat siswa, serta
- Membantu siswa menilai kemajuan belajarnya sendiri.

* * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kritik dan saran sobat sangat erc harapkan demi penyempurnaan blog ini. Selamat menikmatinya dan silahkan BERKOMENTAR SOBAT.